Kamis, 20 April 2017

Saya ingin jadi Presiden jika besar nanti. Tidak bisa, kamu kan Kristen..

Beberapa hari yang lalu saya jajan di salah satu sekolah dasar di dekat rumah. Saat saya sedang asyik menyantap pempek murah di sana, telinga saya kaget mendengar obrolan sekelompok siswa. Ada setidaknya lima orang jumlah mereka. Kelimanya sedang menunggu pesanan cilok mereka disajikan si pedagang. Tiba-tiba salah satunya, yang paling ganteng di antara mereka berujar. “Saya ingin jadi presiden jika besar nanti.”

“Tidak bisa, kamu kan Kristen.” Gugat siswa yang badannya paling besar.

“Iya. Ngga bisa. Kita yang mayoritas Islam, ngga mungkin membiarkan kamu terpilih. Seberapa pun baik dan cakapnya kamu.” Timpal yang lainnya.

“Jadi Lurah pun kamu tak bisa. Mama temanku yang Kristen, jadi Lurah di Lenteng Agung aja ditolak.”

“Udahlah, kamu paling mentok jadi ketua RW saja. Itu pun dengan syarat kamu tinggal bertetangga dengan mayoritas mereka yang satu agama.”

“Karena kita, muslim, tidak akan membiarkan kafir seperti kamu memimpin kami. Kecuali di perusahaan tempat ayah dan ibu kami mencari makan untuk kami.” Siswa yang badannya paling kecil menutup percakapan itu sambil menerima cilok pesanannya.

Pilkada DKI 2017 telah membuka mata kita. Membuat kita tersadar dari utopia yang selama ini kita saksikan dalam tidur panjang bernegara. Mimpi akan kebhinekaan serta persamaan hak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia. Cita-cita yang dirumuskan para bapak dan ibu pendiri bangsa.

Jika mata itu terbuka sebelum tanggal 17 Agustus 1945, saya yakin tidak ada Indonesia yang sebesar sekarang. Karena orang manado, ambon, kupang dan masih banyak daerah lainnya lebih baik mendirikan negara sendiri. Setidaknya hal itu menjamin, jika kelak anak mereka bermimpi jadi presiden, maka mereka bisa membantu mewujudkan mimpi anak-anaknya.

Saya teringat, sebuah percakapan antara pejabat pemerintah yang datang ke daerah Sibolga di Sumatera utara pada era presiden Soeharto. Saat seorang anak ditanya “Apa cita-cita kamu dik?”

“Jadi presiden pak.” Jawab si anak.

“Ohh, bisa. Asal kamu belajar yang rajin.” Kata si pejabat.

Bohong.

Kenapa tidak langsung saja di jawab. “Tidak bisa. Kamu Kristen. Kecuali kamu masuk Islam dan jadi muallaf. Itu berarti kamu harus meninggalkan Tuhan kamu untuk jadi presiden. Lalu menyembah Tuhan kami.”

Sebagian pembaca artikel saya mungkin saja akan marah. Tidak suka, karena saya bicara blak-blakan. Tidak suka, karena saya tidak ikut meninabobokan saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan.

Apakah saya membenci Islam? Tidak. Saya sangat mencintainya. Begitu pula, saya mencintai bangsa ini, Indonesia.

Jika membiarkan kebohongan itu terus berlangsung dianggap sebagai sumbangsih bagi kebesaran Islam, maka saya tak mau ikut serta. “Lalu apa bukti kecintaanmu pada Islam?”, jika kemudian pertanyaan itu muncul, maka saya akan tegas menjawab “Jika terjadi perang antara Islam dan Kristen secara global, seperti perang salib misalnya. Maka InsyaAllah, saya akan berada pada barisan paling depan. Jadi kelompok yang gugur paling awal.” (Catt: walaupun, perang salib juga masih sangat debatable, apakah perang itu murni perang keyakinan, atau besar unsur ekonominya)

Kadang saya selalu berpikir, apakah saya lahir lebih cepat dari yang seharusnya. Apakah ini jaman yang tepat untuk saya hidup. Jika jawabannya, tidak. Maka kenapa saya dilahirkan sekarang?. Apa tugas saya di jaman ini. Siapakah saya sebenarnya? *mulai drama.

Tak banyak yang saya harapkan dari tulisan ini. Saya hanya berharap kembali tertidur. Kembali bermimpi tentang Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Merdeka!

Senin, 17 April 2017

CUPID: Panah Takdirku

PROLOG: AKHIRAT

Segumpal asap rokok menggangu ketenanganku. Aku sedikit terbatuk karena baunya. Sambil berusaha mengusir asap yang ada di dekatku dengan kedua tangan, aku mencari sumbernya. Ternyata berasal dari seorang pria yang duduk empat deret di sebelah kananku.

“Bang, emang boleh yah merokok disini?” Tegurku.

“Bolehlah. Apalagi yang mesti kau takuti. Toh kita semua sudah mati.” Jawabnya tak enak.

“Tapi ganggu bang.”

“Kalau nggak suka, kau boleh antri lagi dari belakang sana.”

“Ssstt, sudah-sudah. Dia itu Bang Roy. Sudah senior disini.” Ucap seorang wanita yang ada di sebelahku, berusaha menenangkan suasana.

“Tapi nggak gitu jug..”

“Tyo.” Belum aku menyelesaikan kata-kataku, suara seorang pria dari dalam ruangan yang tepat di depan tempat dudukku memanggil.

“Tuh sana, sudah dipanggil namamu. Semoga kamu dapat pasangan yang mudah.” Ujar wanita yang di sebelahku tadi.

“Iya. Semoga.” Jawabku buru-buru. Lalu segera masuk ke dalam ruangan.

----------

Aku duduk dalam diam. Menunggu pria yang duduk di hadapanku mengeluarkan sebait kalimat pembukanya. Lima menit sudah aku duduk di depannya, tapi ia seolah tak peduli. Ia masih asyik membolak-balik berkas yang ada di tangannya, sambil sesekali membaca isinya, lalu tersenyum pahit. Kemudian mukanya dikondisikan datar kembali.

“Ini tugas pertamamu yah?” Tanya Mr. Firman. Aku tau namanya dari name tag yang terpasang di dada kanan baju putihnya.

“Iya pak.”

“Hmm..” Ia memandangku. Ada keraguan dalam tatapannya.

“Oke. Good luck ya. Ini tugas yang mesti kamu selesaikan.” Ia berkata sambil menyerahkan seluruh berkas yang dibacanya dari tadi.

“Iya pak. Terima kasih.” Jawabku sambil mengambil berkas itu.

“Baik silakan keluar. Kamu bisa langsung menuju ruang preparation.”

“Anita..” Ia memanggil giliran yang lain.

----------

“Ini sejumlah uang untuk biaya selama masa tugasmu.” Ujar seorang wanita tua dengan tahi lalat di atas bibirnya sambil menyerahkan sekoper uang.

“Masa tugasmu maksimal tiga tahun. Jika sampai batas waktu tersebut kamu belum juga menyelesaikannya, maka akan ada senior yang diutus untuk menggantikanmu menyelesaikan tugas itu.” Terangnya lagi.

“Semua detail tugas dan data diri target ada di dalam berkas yang kamu pegang.”

“Selamat bertugas.” Ia menutup penjelasannya.

“Siap bu. Terima kasih.”

(To be continued)

Inspired by: Andra and the backbone - Panah Takdir

Sinopsis CUPID: Panah Takdirku

Tyo baru saja menjadi seorang malaikat cinta. Ia ditugaskan membuat Kiyomi dan Keenan menikah. Sebuah insiden di KRL membuatnya telat menancapkan panah asmaranya. Begitu tiba di rumah Kiyomi, ia harus menghadapi kenyataan bahwa Keenan telah meninggal akibat sebuah kecelakaan.

Dalam sebuah kesempatan, Anita seorang malaikat cinta senior memberitahunya, bahwa Kiyomi adalah reinkarnasi dari Febby, wanita yang dulu seharusnya menjadi cinta Tyo. Sementara bagi Tyo, dalam kenangannya, Febby adalah salah satu dosa terbesarnya di masa lalu. Kesedihan Kiyomi ditinggal Keenan dan kenyataan bahwa Kiyomi adalah reinkarnasi Febby membuat Tyo tetap tinggal di dekatnya. Menghiburnya. Menghabiskan tiga tahun penugasannya di Bumi. Berusaha menebus kesalahannya.

Di akhirnya masa penugasan Tyo, Keenan kembali. Kali ini dalam wujud bernama Christian. Semua terjadi berkat campur tangan Farid. Seorang malaikat pencabut nyawa. Farid sendiri adalah mantan kekasih Lala. Seorang wanita yang cintanya telah direbut Tyo. Bagi Farid, Tyo adalah musuh terbesarnya. Pria yang telah menggagalkan pernikahan impiannya. Sebuah impian yang telah dirancangnya sejak SMP. Saat pertama kali mengenal Lala.

Tyo kemudian ditugaskan menancapkan panas asmaranya pada Kiyomi dan Christian. Namun itu menjadi berat bagi Tyo, karena ia telah mencintai Kiyomi. Atas pelanggaranya, ia dihukum. Sementara tugasnya digantikan Roy, malaikat cinta lainnya yang dari awal tidak suka dengan Tyo. Akhirnya, Roy pun berhasil menancapkan panas asmara pada Kiyomi dan Christian. Namun, Kiyomi menolak racunnya. Menegaskan cintanya kini hanya untuk Tyo.

Sementara Roy sendiri sebenarnya adalah malaikat cinta yang ditugaskan menancapkan panah asmara pada Farid dan Lala. Namun hobi mabuknya telah membuatnya menembak dengan salah sasaran. Menancapkannya pada Lala dan Tyo. Itulah mengapa ia sangat membenci Tyo.

Bagaimana nasib hubungan Tyo dan Kiyomi? Lantas kenyataan bahwa racun asmara bisa ditolak seperti yang dilakukan Kiyomi, apakah mampu membuat farid memaafkan Tyo? Menyadari kenyataan, bahwa dahulu, Lala tak pernah benar-benar mencintainya. Karena tak bisa melakukan yang seperti Kiyomi lakukan.

Untuk mengetahuinya, silakan dibaca kisahnya dalam ‘CUPID: Panah takdirku’.

Selasa, 07 Februari 2017

TOM and his magical world

Book #1 “The Lemurian”

Prolog.

Tom adalah seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun. Ia tinggal berdua dengan bibinya. Seorang pegawai kantor pos, yang belum menikah. Tak ada yang menarik dari Tom. Penampilannya tak lebih dari bocah seumurannya yang lain. Berkulit putih, berlengan kecil. Jari-jari tangannya panjang dan runcing. Telinga sebelah kanannya caplang, sementara yang kiri tidak. Bagian yang menarik dari Tom hanya rambutnya. Rambut yang berwarna cokelat keemasan.

Tom memiliki lamunan yang aneh sejak kecil.

Berawal saat usianya lima tahun. Tom sering melamun bahwa tubuhnya bisa melayang di udara. Puluhan kali ia merasakannya. Biasanya lamunan Tom baru terhenti ketika kepalanya terpentok langit-langit rumah. Tom tak pernah bisa membuktikan bahwa lamunannya itu nyata. Meski selalu ada sedikit benjolan di kepalanya setiap dia habis melakukannya. Tapi bisa saja itu hanya kebetulan. Lamunan dan mimpinya itu terus berlangsung hingga usia Tom tujuh tahun. Setelahnya, Tom memiliki lamunannya yang lain.

Pada usianya yang ke-11, Tom menemukan tempat yang sangat indah dalam lamunannya. Tempat yang belakangan ia sering kunjungi, baik dalam mimpi maupun imajinasinya. Tempat yang ia temukan setelah menyusuri sebuah lorong gelap, seperti gua atau entah apa namanya. Lalu di dalamnya ia temukan sebuah mata air. Sangat bening. Tom awalnya hanya tergoda untuk mandi atau sekedar membasuh peluhnya di sana. Hingga ia mendapati sebuah cahaya terang dari dasar mata air. Ia menyelam menuju sumber cahaya. Terus ke dalam, sampai ia kembali ke permukaan air. Tapi bukan permukaan mata air tempatnya tadi. Melainkan sebuah pantai. Dengan pasirnya yang putih. Puluhan pohon kelapa berjejer rapih di pinggirnya. Lalu ketika Tom melihat lebih jauh ke tengah pulau, ia mendapati sebuah gunung tinggi besar dengan belasan bukit yang menjaga di sebelahnya. Ada setidaknya sebuah air terjun yang sangat indah di masing-masing bukit tadi, beberapanya ada di tebing-tebing sekitar pantai. Air yang jatuh dari air terjun itu pun langsung bercampur dengan air laut. Mungkin itu yang membuat air laut di pantai tak asin, justru sangat menyegarkan. Seperti Pocari sweat. Minuman kesukaan Diana, bibinya. Tom menebak, tempat itu pasti bukan berada di dunianya. Tempat yang cukup dekat, namun berbeda.

Sebuah surga, begitu biasa ia menceritakan pada bibinya. Tentu saja bibinya tidak mempercayainya, begitu juga dengan semua teman-temannya. Hanya Mrs. Elijah yang percaya. Kepala sekolahnya di Kinderfield School. Satu-satunya sekolah negeri di daerahnya, Margot. Tiga puluh kilometer dari Jakarta.

Tapi kini ia pun tak yakin, apakah Mrs Elijah benar-benar mempercayainya. Atau sekedar menghiburnya saja.

Malam ini, Tom akan membuktikan pada semuanya. Membuktikan ia benar-benar bisa pergi kesana. Ke dunianya yang ajaib. Lalu pulang, kembali pada bibinya dan Mrs. Elijah. Membawakan mereka suvenir. Buah kelapa yang berisi susu cokelat di dalamnya.

Senin, 16 Januari 2017

RAHWANA: THE SAD STORY (revisi)

Prolog.

Lima belas hari setelah purnama, ketika bulan mati dan malam menjadi sangat gelap, akhirnya ajal sang durjana itu tiba. Anak panah brahmastra melesat cepat dari busur yang ditembakan Rama. Mendarat tepat di jantung Rahwana. Membuatnya tersungkur. Diam, Rahwana coba menghimpun sisa-sisa nafasnya. Ia tahu, nyawanya telah sampai di kerongkongan. Tak akan lama lagi ia mampu bertahan.

Dalam gelisahnya menunggu kematian, Rahwana mendapati wajah Sinta dalam angannya. Wanita yang begitu ia cintai. Wanita yang membuatnya meluluhlantakan Alengka. Negeri yang ia sayangi. Beribu rakyatnya telah binasa, demi ego ia yang punya kuasa.

Rahwana meneteskan air mata.

Ia memanjatkan doa. Berbicara pada Sang Hyang Tunggal.

“Hukumlah aku beribu reinkarnasi dengan kesengsaraan. Buatlah itu jadi penebus dosaku. Buat itu tiada henti, sampai tak tersisa sebiji zarah dosa yang tersisa dari kesalahanku.”

“Dan jika sudah cukup semuanya terbayar. Maka aku hanya minta satu padamu Sang Hyang Tunggal. Jadikanlah aku jodoh Sinta. Sekali saja, dalam salah satu cerita kehidupanku.” Rahwana lalu menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengucap permohonannya.

Gelegar halilintar dan hujan deras langsung turun. Menhujam bumi. Menyambut kematian si pendosa.

*Bab 1 Namanya Rahwana*

Surabaya, Indonesia. 1993.

Asap rokok mengepul memenuhi ruangan tiga kali empat yang dipenuhi bertumpuk koran bekas. Udara lembab dan bau apek dari asap rokok membuat lima bocah yang ada di ruangan itu terbatuk-batuk. Namun takut membuat mereka menahan suaranya agar tidak terlampau nyaring.

“Ini bocah-bocah yang lo dapat dari malang?” Ujar seorang pria paruh baya bernama Kumba. Perokok berat yang mulutnya selalu dipenuhi asap rokok.

“Iya bos.” Jawab pria di sebelahnya bernama Aji.

“Berapa semuanya?” Tanya Kumba.

“Seorang lima juta bos. Jadi 25 semuanya.” Kata Aji sambil mencoba memasang mimik wibawa di wajahnya. 

“Taik. Bocah jelek-jelek gini 5 juta. Udah semua gw bayar 10 juta.” Hardik Kumba coba menjatuhkan nyali Aji.

“Yah, jangan bos. Nggak sebanding sama risikonya.” Aji langsung ciut.

“Nggak mau ya udah. Lo cari aja yang mau. Gw pergi kalau begitu.” Kata Kumba sambil membuang puntung rokoknya, lalu menginjaknya sampai padam.

“Jangan pergi dulu dong bos.” Aji buru-buru menahan laju tubuh Kumba.

“Naikin sedikit deh.” Rayu Aji.

“Oke. 12 juta. Kasihan gw sama lo.” Kumba melunak.

“Oke bos. Jadi.” Ujar Aji dengan muka senang sambil menjabat tangan Kumba yang sudah kembali menyalakan sebatang rokok.

“Nama lo siapa?” Tanya Kumba pada bocah yang paling dekat darinya.

“Andrew.” Jawab bocah yang umurnya belum sampai tujuh tahun itu.

“Wuihh, anak orang kaya lo kayaknya. Kalau lo siapa?” ia menunjuk bocah di sebelah Andrew.

“Benny.” Jawab bocah yang kelihatannya memiliki usia paling tua. Sekitar sembilan tahun.

“Kalau lo?”

“Alfar.”

“Cakep. Lo?”

“Heri.”

“Wah, suara lo bagus nih buat ngamen.”

“Nah lo siapa namanya?” Tanya Kumba menunjuk bocah yang terakhir.

Tidak ada jawaban. Bocah itu diam saja. Matanya fokus menatap lantai di bawahnya.

“Eh taik lo, jawab.” Kumba marah. Tangannya mengambil sepotong koran bekas, lalu melemparkannya tepat mengenai wajah si bocah.

Tapi seperti tak terjadi apa-apa, bocah itu tetap diam. Tidak bereaksi. Mata fokus menatap koran yang tadi mengenai wajahnya. Ia membaca tanggal yang tertulis di sudut kanan atas koran itu. 9 mei 1993. Lalu ia membaca berita yang ada di bawahnya, mayat Marsinah telah ditemukan di desa Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur.

“Jawab lo. Nggak jawab gw gebukin.” Muka Kumba tambah memerah melihat reaksi bocah itu yang tidak takut sedikit pun.

“Jangan bos. Dia kayaknya bisu. Nggak bisa ngomong.” Aji coba menenangkan suasana.

“Anjing lo. Bocah cacat begitu lo kasih ke gw. Nggak jadi gw kasih lo 12.” Kumba masih dipenuhi amarah.

“Yah, jangan begitu dong bos. Oke deh 11 aja. Biar bisu juga dia rajin.” Aji coba menawar.

“Oke deh. Gw bikin buta aja nih anak. Biar jadi pengemis” Ujar Kumba penuh emosi.

“Nah cakep tuh bos.” Kata Aji coba menyenangkan pembelinya itu.

“Dimana lo nemu tuh bocah? Siapa namanya?” Kumba bertanya pada Aji dengan penuh selidik.

“Di daerah Blimbing bos. Ibunya baru meninggal sehari, bapaknya supir truk nyuruh gw bayarin tuh bocah 150 ribu. Ya gw ambil.” Aji coba menjelaskan sedetail yang ia tahu.

"Namanya Rahwana."



*BAB II Bertemu Sinta*

Suara detak jantung Rahwana terdengar nyaring. Ada ekspresi takut yang coba ia sembunyikan di wajahnya. Meski demikian matanya tak bisa bohong. Ia benar-benar sedang ketakutan.

Tubuh Rahwana terus meronta, ia coba melawan tali yang mengikat tangan dan kakinya.

Melihat tingkah Rahwana, Kumba hanya tersenyum. Ia merasa menang.

"Takut lo sekarang." Ia berbicara pada Rahwana. Sementara tangannya sedang membakar sebuah sendok dengan api lilin. Diputar-putarnya sendok itu terus agar panasnya merata.

"Ditaruh dimana ini bos?." Tanya anak buah Kumba bernama Nanang, sambil menunjukan botol alkohol yang dibawanya.

"Tuang ke baskom itu aja Nang." Jawab Kumba sambil menunjuk baskom kecil berwarna hijau.




Selasa, 10 Januari 2017

BELAJAR DARI KISAH PEWAYANGAN

Seminggu yang lalu, gw ngobrol dengan dua orang teman di kantor yang sama-sama penyuka kisah pewayangan. Mas Wahid dan Andika. Gw sendiri suka banget kisah pewayangan sejak kecil. Jauh sebelum gw kenal Harry potter atau komik super hero lokal karya Tatang S.

Dulu, gw selalu minta diceritain kisah Ramayana dan Mahabarata sebelum tidur sama bapak gw. Dia tentu dengan senang hati menceritakannya. Tapi syaratnya satu. Sambil mijitin kakinya. Favoritnya diinjak-injak.

Kisah pewayangan mengajarkan gw untuk open minded dalam hidup. Terutama saat menilai orang. Kita mesti melihat banyak angle. Kisah pewayangan mengajarkan bahwa tidak ada orang yang seratus persen jelek atau seratus persen bagus. Selalu ada satu dua kebajikan dari dominan sikap jahat seseorang, begitu pula sebaliknya.

Sebagai contoh, Duryudana. Anak sulung kurawa. Tokoh yang dianggap sangat jahat ini punya sifat jelek, yaitu iri dan dengki. Selain itu juga kasar dan tidak menghargai perempuan. Tapi satu sifat baiknya adalah dia seorang yang sangat setia kawan. Sifat itulah yang kemudian meluluhkan hati Adipati Karna, kakak tertua Pandawa dari beda bapak. Hingga akhir hayatnya, Karna tetap setia membela Duryudana. Ia pun harus rela melawan adik-adiknya untuk menjaga kesetiaannya itu. Karna tahu bahwa sejatinya ia berada di pihak yang salah. Fyi, nama Karna kelak jadi inspirasi orang tua proklamator kita menamakan buah hatinya. Soekarno.

Atau, Yudistira. Kakak tertua pandawa lima. Tokoh baik yang sangat dikagumi wakil presiden RI ke-11, Boediono. Dengan segala kebijaksanaan yang dimilikinya, Yudistira sesungguhnya adalah orang yang plin-plan. Menurut gw, ia merupakan orang yang paling bertanggung jawab akan terjadinya perang Bharatayudha. Perang besar antara Pandawa dan kurawa. Sikap plin-plan yudistira tak jarang membuat keluarganya dipermalukan. Salah satunya saat istrinya Drupadi akan ditelanjangi Duryudana di meja judi. Beruntung Dewa wisnu membuat kain penutup tubuh Drupadi tak bisa habis digulung.

Selain soal jahat dan baik, kisah pewayangan juga bisa jadi kajian kita untuk menilai banyak sifat yang dimiliki manusia. Salah satunya cinta.

Kisah Rama dan Shinta selalu menarik buat gw dari dulu. Bagaimana gw selalu mempertanyakan rasa cinta Rama pada Shinta.

Sebelum kita mendiskusikannya, gw akan merangkum sedikit kisahnya.

Pada satu masa, ada seorang pangeran tampan dari negeri Ayodya bernama Rama. Dia jatuh cinta pada puteri cantik asal negeri Mithila bernama Shinta. Kisah cinta mereka berjalan tanpa halang rintang yang berarti. Keduanya lalu jadi kekasih yang berujung pada pelaminan.

Dalam perjalanannya, Rahwana muncul. Rasa cintanya pada Shinta membuatnya berani melarikan istri Rama itu ke negeri Alengka, tempatnya berkuasa.

Lewat bantuan Hanoman, Rama kemudian bisa membunuh Rahwana dan merebut kembali Shinta ke Ayodya.

Namun gunjingan rakyat akan kesucian Shinta yang telah berbulan-bulan ditawan Rahwana membuat Rama melakukan ritual api suci. Membakar Shinta hidup-hidup. Shinta menangis melihat suaminya yang tidak mempercayainya. Konon tangisan Shinta membuat seisi alam bersedih. Namun karena kepatuhannya, ia tetap menjalani ritual itu. Shinta pun berhasil selamat dari kobaran api.

Tapi ujian itu ternyata belum cukup memuaskan hasrat Rama untuk mencari tahu penasaran di hatinya. Akibat gunjingan rakyatnya yang tiada henti, Rama kemudian membuang Shinta ke hutan. Bertahun-tahun berlalu, kemudian Shinta kembali ke istana. Rama kemudian menyadari kesalahannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kali ini Shinta marah dan hentakan kakinya membuat bumi terbelah menjadi dua. Ia lalu turun masuk ke perut bumi. Dan tidak pernah kembali lagi.

Kisah ini merupakan epos Ramayana versi India.

Dari kisah tadi gw berpikir. Saat Rama mati-matian mengambil kembali Shinta dari Rahwana, apakah itu dilandasi cinta?. Atau semata hanya karena ia berusaha melindungi egonya sebagai laki-laki. Bahwa “miliknya” tak boleh diambil orang lain.

Jika ia cinta, lalu mengapa kemudian Rama menyianyiakan shinta. Tak percaya pada Shinta. Ia justru lebih mendengarkan gunjingan rakyatnya. Bukankah cinta harusnya saling menguatkan sepasang kekasih. Membuatnya saling percaya dan saling jaga.

Kemudian gw tertarik akan cinta Rahwana pada Shinta. Berbulan-bulan mengurung Shinta di Alengka tentu Rahwana punya banyak kesempatan jika ingin berbuat jahat pada Shinta. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, tentu ia dengan mudah bisa “memaksa” Shinta menuruti kemauannya. Baik dengan ancaman atau dengan cara tak terpuji lainnya. Misalkan memperdaya Shinta lewat obat-obatan yang membuatnya hilang kesadaran atau efek buruk lainnya. Tapi nyatanya itu tak dilakukan Rahwana. Ia tetap menjaga kesucian Shinta.

Jadi cinta siapa sesungguhnya yang lebih besar pada Shinta?

Topik ini cukup seru kami perbincangkan saat itu. Sampai akhirnya, gw sadar lima menit lagi news update jam sembilan. Jadilah gw mesti bergegas menuju studio. Mengendalikan siarannya.

Meski tak selesai kami bahas tuntas topik ini, tapi sepertinya gw tertarik membuat kisah kehidupan Rahwana seribu tahun kemudian.

Ini sedikit teasernya.

RAHWANA

Prolog.

Lima belas hari setelah purnama, ketika bulan mati dan malam menjadi sangat gelap, akhirnya ajal sang durjana itu tiba. Anak panah brahmastra melesat cepat dari busur yang ditembakan Rama. Mendarat tepat di jantung Rahwana. Membuatnya tersungkur. Diam, Rahwana coba menghimpun sisa-sisa nafasnya. Ia tahu, nyawanya telah sampai di kerongkongan. Tak akan lama lagi ia mampu bertahan.

Dalam gelisahnya menunggu kematian, Rahwana mendapati wajah Sinta dalam angannya. Wanita yang begitu ia cintai. Wanita yang membuatnya meluluhlantakan Alengka. Negeri yang ia sayangi. Beribu rakyatnya telah binasa, demi ego ia yang punya kuasa.

Rahwana meneteskan air mata.

Ia memanjatkan doa. Berbicara pada Sang Hyang Tunggal.

“Hukumlah aku beribu reinkarnasi dengan kesengsaraan. Buatlah itu jadi penebus dosaku. Buat itu tiada henti, sampai tak tersisa sebiji zarah dosa yang tersisa dari kesalahanku.”

“Dan jika sudah cukup semuanya terbayar. Maka aku hanya minta satu padamu Sang Hyang Tunggal. Jadikanlah aku jodoh Sinta. Sekali saja, dalam salah satu cerita kehidupanku.” Rahwana lalu menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengucap permohonannya.

Gelegar halilintar dan hujan deras langsung turun. Menhujam bumi. Menyambut kematian si pendosa.

Rabu, 19 Oktober 2016

I Love U

Prolog.

Ia mengebaskan rambutnya. Tersenyum. Dan aku langsung jatuh cinta.

“Bengong aja loe.”

“Eh, hmm.. Ngga kok. Lagi ngapalin adegan.”

“Gila cantik banget sob model ceweknya.”

“Yang mana?”

“Halah. Basi loe. Itu yang dari tadi lo liatin. Namanya Caitlin.”

“Owh, namanya Caitlin.”

**

“Hai. Gw Caitlin. Tapi kalau ribet, panggil aja gw Cathy.”

“Eh, hai. Gw Prast.”

**

“Oke ya. Roll. Action.”

Ia melangkah menujuku. Tersenyum. Matanya berbinar. Bibirnya merekah. Tangannya lalu menghampiriku. Menarik lenganku. Menuntunnya. Pergi bersama jemarinya.

“Oke, bungkus ya. Makasih.”

“Makasih.” Balasnya sambil membungkukan kepala.

Sementara aku terdiam. Menatapnya. Sambil mencari hatiku.

“Ia pasti telah mengambilnya. Sewaktu jemarinya menyentuh lenganku tadi.” Pikirku dalam hati.

**

“Kok diam aja sih?” Cathy menyapaku.

“Nggak apa-apa. Ini pengalaman pertama gw aja.”

“Pertama apa?”

“Jatuh cinta.”

“Eh salah. Maksudnya pertama kali ikut syuting video klip.”

“Sama. Gw juga.” Katanya sambil tersenyum.

Hening.

“Prast.” Cathy coba membuka obrolan.

“Iya.”

“Taruhan yuk.”

“Taruhan apa?”

“Tiga tahun dari sekarang. Siapa di antara kita yang lebih ngetop.”

“Hmm, ukurannya apa?”

“Ya, bisa siapa yang lebih dulu dapatin award. Atau banyak-banyakan video klip. Atau banyak-banyakan jumlah followers instagram.” Katamu sambil tertawa.

“Boleh.”

“Apa nama restoran tempat kita syuting ini?” Tanya Cathy.

“Leber und Geschmack.”

“Okay. Tiga tahun lagi. Di tanggal yang sama. Kita ketemu lagi disini ya. Siapa yang kalah mesti traktir.”

“Okay.” Jawabku mantap. Tiga tahun lagi. Semoga waktu berjalan lebih cepat mulai esok doaku.

-to be continued-