Selasa, 07 Februari 2017

TOM and his magical world

Book #1 “The Lemurian”

Prolog.

Tom adalah seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun. Ia tinggal berdua dengan bibinya. Seorang pegawai kantor pos, yang belum menikah. Tak ada yang menarik dari Tom. Penampilannya tak lebih dari bocah seumurannya yang lain. Berkulit putih, berlengan kecil. Jari-jari tangannya panjang dan runcing. Telinga sebelah kanannya caplang, sementara yang kiri tidak. Bagian yang menarik dari Tom hanya rambutnya. Rambut yang berwarna cokelat keemasan.

Tom memiliki lamunan yang aneh sejak kecil.

Berawal saat usianya lima tahun. Tom sering melamun bahwa tubuhnya bisa melayang di udara. Puluhan kali ia merasakannya. Biasanya lamunan Tom baru terhenti ketika kepalanya terpentok langit-langit rumah. Tom tak pernah bisa membuktikan bahwa lamunannya itu nyata. Meski selalu ada sedikit benjolan di kepalanya setiap dia habis melakukannya. Tapi bisa saja itu hanya kebetulan. Lamunan dan mimpinya itu terus berlangsung hingga usia Tom tujuh tahun. Setelahnya, Tom memiliki lamunannya yang lain.

Pada usianya yang ke-11, Tom menemukan tempat yang sangat indah dalam lamunannya. Tempat yang belakangan ia sering kunjungi, baik dalam mimpi maupun imajinasinya. Tempat yang ia temukan setelah menyusuri sebuah lorong gelap, seperti gua atau entah apa namanya. Lalu di dalamnya ia temukan sebuah mata air. Sangat bening. Tom awalnya hanya tergoda untuk mandi atau sekedar membasuh peluhnya di sana. Hingga ia mendapati sebuah cahaya terang dari dasar mata air. Ia menyelam menuju sumber cahaya. Terus ke dalam, sampai ia kembali ke permukaan air. Tapi bukan permukaan mata air tempatnya tadi. Melainkan sebuah pantai. Dengan pasirnya yang putih. Puluhan pohon kelapa berjejer rapih di pinggirnya. Lalu ketika Tom melihat lebih jauh ke tengah pulau, ia mendapati sebuah gunung tinggi besar dengan belasan bukit yang menjaga di sebelahnya. Ada setidaknya sebuah air terjun yang sangat indah di masing-masing bukit tadi, beberapanya ada di tebing-tebing sekitar pantai. Air yang jatuh dari air terjun itu pun langsung bercampur dengan air laut. Mungkin itu yang membuat air laut di pantai tak asin, justru sangat menyegarkan. Seperti Pocari sweat. Minuman kesukaan Diana, bibinya. Tom menebak, tempat itu pasti bukan berada di dunianya. Tempat yang cukup dekat, namun berbeda.

Sebuah surga, begitu biasa ia menceritakan pada bibinya. Tentu saja bibinya tidak mempercayainya, begitu juga dengan semua teman-temannya. Hanya Mrs. Elijah yang percaya. Kepala sekolahnya di Kinderfield School. Satu-satunya sekolah negeri di daerahnya, Margot. Tiga puluh kilometer dari Jakarta.

Tapi kini ia pun tak yakin, apakah Mrs Elijah benar-benar mempercayainya. Atau sekedar menghiburnya saja.

Malam ini, Tom akan membuktikan pada semuanya. Membuktikan ia benar-benar bisa pergi kesana. Ke dunianya yang ajaib. Lalu pulang, kembali pada bibinya dan Mrs. Elijah. Membawakan mereka suvenir. Buah kelapa yang berisi susu cokelat di dalamnya.

Senin, 16 Januari 2017

RAHWANA: THE SAD STORY (revisi)

Prolog.

Lima belas hari setelah purnama, ketika bulan mati dan malam menjadi sangat gelap, akhirnya ajal sang durjana itu tiba. Anak panah brahmastra melesat cepat dari busur yang ditembakan Rama. Mendarat tepat di jantung Rahwana. Membuatnya tersungkur. Diam, Rahwana coba menghimpun sisa-sisa nafasnya. Ia tahu, nyawanya telah sampai di kerongkongan. Tak akan lama lagi ia mampu bertahan.

Dalam gelisahnya menunggu kematian, Rahwana mendapati wajah Sinta dalam angannya. Wanita yang begitu ia cintai. Wanita yang membuatnya meluluhlantakan Alengka. Negeri yang ia sayangi. Beribu rakyatnya telah binasa, demi ego ia yang punya kuasa.

Rahwana meneteskan air mata.

Ia memanjatkan doa. Berbicara pada Sang Hyang Tunggal.

“Hukumlah aku beribu reinkarnasi dengan kesengsaraan. Buatlah itu jadi penebus dosaku. Buat itu tiada henti, sampai tak tersisa sebiji zarah dosa yang tersisa dari kesalahanku.”

“Dan jika sudah cukup semuanya terbayar. Maka aku hanya minta satu padamu Sang Hyang Tunggal. Jadikanlah aku jodoh Sinta. Sekali saja, dalam salah satu cerita kehidupanku.” Rahwana lalu menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengucap permohonannya.

Gelegar halilintar dan hujan deras langsung turun. Menhujam bumi. Menyambut kematian si pendosa.

*Bab 1 Namanya Rahwana*

Surabaya, Indonesia. 1993.

Asap rokok mengepul memenuhi ruangan tiga kali empat yang dipenuhi bertumpuk koran bekas. Udara lembab dan bau apek dari asap rokok membuat lima bocah yang ada di ruangan itu terbatuk-batuk. Namun takut membuat mereka menahan suaranya agar tidak terlampau nyaring.

“Ini bocah-bocah yang lo dapat dari malang?” Ujar seorang pria paruh baya bernama Kumba. Perokok berat yang mulutnya selalu dipenuhi asap rokok.

“Iya bos.” Jawab pria di sebelahnya bernama Aji.

“Berapa semuanya?” Tanya Kumba.

“Seorang lima juta bos. Jadi 25 semuanya.” Kata Aji sambil mencoba memasang mimik wibawa di wajahnya. 

“Taik. Bocah jelek-jelek gini 5 juta. Udah semua gw bayar 10 juta.” Hardik Kumba coba menjatuhkan nyali Aji.

“Yah, jangan bos. Nggak sebanding sama risikonya.” Aji langsung ciut.

“Nggak mau ya udah. Lo cari aja yang mau. Gw pergi kalau begitu.” Kata Kumba sambil membuang puntung rokoknya, lalu menginjaknya sampai padam.

“Jangan pergi dulu dong bos.” Aji buru-buru menahan laju tubuh Kumba.

“Naikin sedikit deh.” Rayu Aji.

“Oke. 12 juta. Kasihan gw sama lo.” Kumba melunak.

“Oke bos. Jadi.” Ujar Aji dengan muka senang sambil menjabat tangan Kumba yang sudah kembali menyalakan sebatang rokok.

“Nama lo siapa?” Tanya Kumba pada bocah yang paling dekat darinya.

“Andrew.” Jawab bocah yang umurnya belum sampai tujuh tahun itu.

“Wuihh, anak orang kaya lo kayaknya. Kalau lo siapa?” ia menunjuk bocah di sebelah Andrew.

“Benny.” Jawab bocah yang kelihatannya memiliki usia paling tua. Sekitar sembilan tahun.

“Kalau lo?”

“Alfar.”

“Cakep. Lo?”

“Heri.”

“Wah, suara lo bagus nih buat ngamen.”

“Nah lo siapa namanya?” Tanya Kumba menunjuk bocah yang terakhir.

Tidak ada jawaban. Bocah itu diam saja. Matanya fokus menatap lantai di bawahnya.

“Eh taik lo, jawab.” Kumba marah. Tangannya mengambil sepotong koran bekas, lalu melemparkannya tepat mengenai wajah si bocah.

Tapi seperti tak terjadi apa-apa, bocah itu tetap diam. Tidak bereaksi. Mata fokus menatap koran yang tadi mengenai wajahnya. Ia membaca tanggal yang tertulis di sudut kanan atas koran itu. 9 mei 1993. Lalu ia membaca berita yang ada di bawahnya, mayat Marsinah telah ditemukan di desa Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur.

“Jawab lo. Nggak jawab gw gebukin.” Muka Kumba tambah memerah melihat reaksi bocah itu yang tidak takut sedikit pun.

“Jangan bos. Dia kayaknya bisu. Nggak bisa ngomong.” Aji coba menenangkan suasana.

“Anjing lo. Bocah cacat begitu lo kasih ke gw. Nggak jadi gw kasih lo 12.” Kumba masih dipenuhi amarah.

“Yah, jangan begitu dong bos. Oke deh 11 aja. Biar bisu juga dia rajin.” Aji coba menawar.

“Oke deh. Gw bikin buta aja nih anak. Biar jadi pengemis” Ujar Kumba penuh emosi.

“Nah cakep tuh bos.” Kata Aji coba menyenangkan pembelinya itu.

“Dimana lo nemu tuh bocah? Siapa namanya?” Kumba bertanya pada Aji dengan penuh selidik.

“Di daerah Blimbing bos. Ibunya baru meninggal sehari, bapaknya supir truk nyuruh gw bayarin tuh bocah 150 ribu. Ya gw ambil.” Aji coba menjelaskan sedetail yang ia tahu.

"Namanya Rahwana."



*BAB II Bertemu Sinta*

Suara detak jantung Rahwana terdengar nyaring. Ada ekspresi takut yang coba ia sembunyikan di wajahnya. Meski demikian matanya tak bisa bohong. Ia benar-benar sedang ketakutan.

Tubuh Rahwana terus meronta, ia coba melawan tali yang mengikat tangan dan kakinya.

Melihat tingkah Rahwana, Kumba hanya tersenyum. Ia merasa menang.

"Takut lo sekarang." Ia berbicara pada Rahwana. Sementara tangannya sedang membakar sebuah sendok dengan api lilin. Diputar-putarnya sendok itu terus agar panasnya merata.

"Ditaruh dimana ini bos?." Tanya anak buah Kumba bernama Nanang, sambil menunjukan botol alkohol yang dibawanya.

"Tuang ke baskom itu aja Nang." Jawab Kumba sambil menunjuk baskom kecil berwarna hijau.




Selasa, 10 Januari 2017

BELAJAR DARI KISAH PEWAYANGAN

Seminggu yang lalu, gw ngobrol dengan dua orang teman di kantor yang sama-sama penyuka kisah pewayangan. Mas Wahid dan Andika. Gw sendiri suka banget kisah pewayangan sejak kecil. Jauh sebelum gw kenal Harry potter atau komik super hero lokal karya Tatang S.

Dulu, gw selalu minta diceritain kisah Ramayana dan Mahabarata sebelum tidur sama bapak gw. Dia tentu dengan senang hati menceritakannya. Tapi syaratnya satu. Sambil mijitin kakinya. Favoritnya diinjak-injak.

Kisah pewayangan mengajarkan gw untuk open minded dalam hidup. Terutama saat menilai orang. Kita mesti melihat banyak angle. Kisah pewayangan mengajarkan bahwa tidak ada orang yang seratus persen jelek atau seratus persen bagus. Selalu ada satu dua kebajikan dari dominan sikap jahat seseorang, begitu pula sebaliknya.

Sebagai contoh, Duryudana. Anak sulung kurawa. Tokoh yang dianggap sangat jahat ini punya sifat jelek, yaitu iri dan dengki. Selain itu juga kasar dan tidak menghargai perempuan. Tapi satu sifat baiknya adalah dia seorang yang sangat setia kawan. Sifat itulah yang kemudian meluluhkan hati Adipati Karna, kakak tertua Pandawa dari beda bapak. Hingga akhir hayatnya, Karna tetap setia membela Duryudana. Ia pun harus rela melawan adik-adiknya untuk menjaga kesetiaannya itu. Karna tahu bahwa sejatinya ia berada di pihak yang salah. Fyi, nama Karna kelak jadi inspirasi orang tua proklamator kita menamakan buah hatinya. Soekarno.

Atau, Yudistira. Kakak tertua pandawa lima. Tokoh baik yang sangat dikagumi wakil presiden RI ke-11, Boediono. Dengan segala kebijaksanaan yang dimilikinya, Yudistira sesungguhnya adalah orang yang plin-plan. Menurut gw, ia merupakan orang yang paling bertanggung jawab akan terjadinya perang Bharatayudha. Perang besar antara Pandawa dan kurawa. Sikap plin-plan yudistira tak jarang membuat keluarganya dipermalukan. Salah satunya saat istrinya Drupadi akan ditelanjangi Duryudana di meja judi. Beruntung Dewa wisnu membuat kain penutup tubuh Drupadi tak bisa habis digulung.

Selain soal jahat dan baik, kisah pewayangan juga bisa jadi kajian kita untuk menilai banyak sifat yang dimiliki manusia. Salah satunya cinta.

Kisah Rama dan Shinta selalu menarik buat gw dari dulu. Bagaimana gw selalu mempertanyakan rasa cinta Rama pada Shinta.

Sebelum kita mendiskusikannya, gw akan merangkum sedikit kisahnya.

Pada satu masa, ada seorang pangeran tampan dari negeri Ayodya bernama Rama. Dia jatuh cinta pada puteri cantik asal negeri Mithila bernama Shinta. Kisah cinta mereka berjalan tanpa halang rintang yang berarti. Keduanya lalu jadi kekasih yang berujung pada pelaminan.

Dalam perjalanannya, Rahwana muncul. Rasa cintanya pada Shinta membuatnya berani melarikan istri Rama itu ke negeri Alengka, tempatnya berkuasa.

Lewat bantuan Hanoman, Rama kemudian bisa membunuh Rahwana dan merebut kembali Shinta ke Ayodya.

Namun gunjingan rakyat akan kesucian Shinta yang telah berbulan-bulan ditawan Rahwana membuat Rama melakukan ritual api suci. Membakar Shinta hidup-hidup. Shinta menangis melihat suaminya yang tidak mempercayainya. Konon tangisan Shinta membuat seisi alam bersedih. Namun karena kepatuhannya, ia tetap menjalani ritual itu. Shinta pun berhasil selamat dari kobaran api.

Tapi ujian itu ternyata belum cukup memuaskan hasrat Rama untuk mencari tahu penasaran di hatinya. Akibat gunjingan rakyatnya yang tiada henti, Rama kemudian membuang Shinta ke hutan. Bertahun-tahun berlalu, kemudian Shinta kembali ke istana. Rama kemudian menyadari kesalahannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kali ini Shinta marah dan hentakan kakinya membuat bumi terbelah menjadi dua. Ia lalu turun masuk ke perut bumi. Dan tidak pernah kembali lagi.

Kisah ini merupakan epos Ramayana versi India.

Dari kisah tadi gw berpikir. Saat Rama mati-matian mengambil kembali Shinta dari Rahwana, apakah itu dilandasi cinta?. Atau semata hanya karena ia berusaha melindungi egonya sebagai laki-laki. Bahwa “miliknya” tak boleh diambil orang lain.

Jika ia cinta, lalu mengapa kemudian Rama menyianyiakan shinta. Tak percaya pada Shinta. Ia justru lebih mendengarkan gunjingan rakyatnya. Bukankah cinta harusnya saling menguatkan sepasang kekasih. Membuatnya saling percaya dan saling jaga.

Kemudian gw tertarik akan cinta Rahwana pada Shinta. Berbulan-bulan mengurung Shinta di Alengka tentu Rahwana punya banyak kesempatan jika ingin berbuat jahat pada Shinta. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, tentu ia dengan mudah bisa “memaksa” Shinta menuruti kemauannya. Baik dengan ancaman atau dengan cara tak terpuji lainnya. Misalkan memperdaya Shinta lewat obat-obatan yang membuatnya hilang kesadaran atau efek buruk lainnya. Tapi nyatanya itu tak dilakukan Rahwana. Ia tetap menjaga kesucian Shinta.

Jadi cinta siapa sesungguhnya yang lebih besar pada Shinta?

Topik ini cukup seru kami perbincangkan saat itu. Sampai akhirnya, gw sadar lima menit lagi news update jam sembilan. Jadilah gw mesti bergegas menuju studio. Mengendalikan siarannya.

Meski tak selesai kami bahas tuntas topik ini, tapi sepertinya gw tertarik membuat kisah kehidupan Rahwana seribu tahun kemudian.

Ini sedikit teasernya.

RAHWANA

Prolog.

Lima belas hari setelah purnama, ketika bulan mati dan malam menjadi sangat gelap, akhirnya ajal sang durjana itu tiba. Anak panah brahmastra melesat cepat dari busur yang ditembakan Rama. Mendarat tepat di jantung Rahwana. Membuatnya tersungkur. Diam, Rahwana coba menghimpun sisa-sisa nafasnya. Ia tahu, nyawanya telah sampai di kerongkongan. Tak akan lama lagi ia mampu bertahan.

Dalam gelisahnya menunggu kematian, Rahwana mendapati wajah Sinta dalam angannya. Wanita yang begitu ia cintai. Wanita yang membuatnya meluluhlantakan Alengka. Negeri yang ia sayangi. Beribu rakyatnya telah binasa, demi ego ia yang punya kuasa.

Rahwana meneteskan air mata.

Ia memanjatkan doa. Berbicara pada Sang Hyang Tunggal.

“Hukumlah aku beribu reinkarnasi dengan kesengsaraan. Buatlah itu jadi penebus dosaku. Buat itu tiada henti, sampai tak tersisa sebiji zarah dosa yang tersisa dari kesalahanku.”

“Dan jika sudah cukup semuanya terbayar. Maka aku hanya minta satu padamu Sang Hyang Tunggal. Jadikanlah aku jodoh Sinta. Sekali saja, dalam salah satu cerita kehidupanku.” Rahwana lalu menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengucap permohonannya.

Gelegar halilintar dan hujan deras langsung turun. Menhujam bumi. Menyambut kematian si pendosa.

Rabu, 19 Oktober 2016

I Love U

Prolog.

Ia mengebaskan rambutnya. Tersenyum. Dan aku langsung jatuh cinta.

“Bengong aja loe.”

“Eh, hmm.. Ngga kok. Lagi ngapalin adegan.”

“Gila cantik banget sob model ceweknya.”

“Yang mana?”

“Halah. Basi loe. Itu yang dari tadi lo liatin. Namanya Caitlin.”

“Owh, namanya Caitlin.”

**

“Hai. Gw Caitlin. Tapi kalau ribet, panggil aja gw Cathy.”

“Eh, hai. Gw Prast.”

**

“Oke ya. Roll. Action.”

Ia melangkah menujuku. Tersenyum. Matanya berbinar. Bibirnya merekah. Tangannya lalu menghampiriku. Menarik lenganku. Menuntunnya. Pergi bersama jemarinya.

“Oke, bungkus ya. Makasih.”

“Makasih.” Balasnya sambil membungkukan kepala.

Sementara aku terdiam. Menatapnya. Sambil mencari hatiku.

“Ia pasti telah mengambilnya. Sewaktu jemarinya menyentuh lenganku tadi.” Pikirku dalam hati.

**

“Kok diam aja sih?” Cathy menyapaku.

“Nggak apa-apa. Ini pengalaman pertama gw aja.”

“Pertama apa?”

“Jatuh cinta.”

“Eh salah. Maksudnya pertama kali ikut syuting video klip.”

“Sama. Gw juga.” Katanya sambil tersenyum.

Hening.

“Prast.” Cathy coba membuka obrolan.

“Iya.”

“Taruhan yuk.”

“Taruhan apa?”

“Tiga tahun dari sekarang. Siapa di antara kita yang lebih ngetop.”

“Hmm, ukurannya apa?”

“Ya, bisa siapa yang lebih dulu dapatin award. Atau banyak-banyakan video klip. Atau banyak-banyakan jumlah followers instagram.” Katamu sambil tertawa.

“Boleh.”

“Apa nama restoran tempat kita syuting ini?” Tanya Cathy.

“Leber und Geschmack.”

“Okay. Tiga tahun lagi. Di tanggal yang sama. Kita ketemu lagi disini ya. Siapa yang kalah mesti traktir.”

“Okay.” Jawabku mantap. Tiga tahun lagi. Semoga waktu berjalan lebih cepat mulai esok doaku.

-to be continued-

Selasa, 13 September 2016

MEREKA YANG SPESIAL

Berapa banyak mereka yang spesial buatmu?. Lupakan soal Ibumu, Bapakmu serta saudara sedarahmu yang lain. Coret juga mereka yang pernah ada di hatimu lalu melukainya. Mereka yang tak pernah benar-benar mencintaimu. Nah, sekarang jawab! Tersisa berapa?.

Merekalah yang spesial.

**

Masih dalam proses belajar nulis non-fiksi. Kali ini gw mau angkat topik soal mereka para sahabat. Ide tulisan ini gw dapat saat ngobrol santai dengan Nana, salah satu teman di kantor. Dalam percakapan singkat itu gw melontarkan kalimat bahwa gw sudah merasa cukup jika punya teman baik 3-4 orang saja. Tapi buat Nana itu gak cukup. Nana suka punya banyak teman. Angka 300 pun terlontar. Ke semuanya ia harapkan bisa jadi teman baik. Amien dalam hati gw mendoakan.

Setiap orang tentunya punya standar dan selera masing-masing dalam memilih teman pun berteman. Buat gw, eksklusivitas itu penting. Motto gw, i don’t care with everybody, i just care with my buddy.

**

Roda waktu terus berputar. Dalam setiap masanya ada yang hadir lalu hilang. Tapi mereka yang spesial tetap tinggal. Tak secara raga kadang, namun jiwa terus ada.

Romy adalah mereka yang spesial pertama buat gw. Ia satu dari sekelompok teman dekat gw kala TK, SD sampai SMA. Ada Ratih, Chandra lalu Ayu juga. Tapi Romy kemudian mencuat jadi spesial yang pertama. Momen seorang teman jadi yang spesial tentunya beragam. Tak pernah sama.

Romy tak cerdas. Kadang cenderung bodoh. Tapi ketulusannya, belum pernah ada yang menandinginya, bahkan hingga saat ini.

Lampu kuning terang menyala di atas kepalanya. Saat itulah gw sadar ia jadi spesial yang pertama. Masa disaat mantan kekasih gw berkata. Ayo kita pergi ke Malang. Bahagia bersama disana.

Mendengar hal itu Romy segera cari cara. Ia kumpulkan semua yang ia punya. Rupiah demi rupiah yang ada. Lalu diberikannya pada gw, sebagai bekal gembira katanya. Tak lama kekasih gw itu kemudian pergi. Menuju tanah bahagianya sendiri. Namun Romy tetap tinggal, menjadi si penggembira.

*

Irfan adalah mereka yang spesial kedua buat gw. Kakaknya pintar banget, adiknya cantik banget. So irfan jadi nothing buat keluarganya. Tapi buat gw, dia spesial.

Hadir bersama Edi dan Alip, Irfan muncul jadi yang spesial pas kuliah. Punya feeling dia bakal jadi mereka yang spesial?. Nggak sama sekali. Irfan justru jadi cowok pertama yang pengen gw gebukin pas kuliah. Songong abis. Rajanya nyela. Tipikal Bombom, kakaknya Lala di film Bidadari.

Tapi mereka yang spesial selalu punya caranya sendiri untuk masuk dalam lingkaran.

Lampu Irfan menyala saat malam itu dia datang ke kostan gw. Menyerahkan sejumlah uang. Katanya buat bekal sukses lo bro. Jadi ketua BEM. Jumlah yang jika dihitung bisa buat bayar sewa kantor sekretariat selama tiga bulan. Thanks bro, kata gw. Next posisi apa pun yang lo mau di kabinet tinggal bilang. Tapi jawaban dia, “kita gak butuh yang kayak gituan bro, pokoknya pas lo udah sukses, kita maunya kapan pun kita panggil lo untuk main, lo harus datang. Itu aja”. Gw diem. Bingung mau ngomong apa. “Ya” jawab gw lirih.

Gw kemudian gagal jadi ketua BEM. Pemilihannya di boikot pihak rektorat. Tapi gak masalah. Karena gw dapat yang lebih abadi. Bukan jabatan yang cuma setahun, tapi sahabat yang akan selalu ada bertahun-tahun. Hingga saat ini. 16 tahun berselang, and still counting.

*

Olivia (bukan nama sebenarnya) masuk daftar mereka yang spesial berikutnya. Gw menemukan dia setelah sembilan tahun masuk dunia kerja. Berbeda dari kedua spesial sebelumnya, pertama kali ketemu Olivia gw langsung sadar. Dia bakal jadi yang spesial. Chemistrynya parah. Bunyi klik, langsung terdengar, bahkan sebelum kata pertama keluar dari mulutnya.

Olivia hadir bersama Lidya, Nunu, Joan dan Lisa.

Btw gw selalu menghargai orang pertama yang menegur gw secara tulus pas gw mulai memasuki sebuah komunitas baru. Dan kala itu, hari kedua. Teguran tulus Olivia jadi pertama yang gw dengar ditempat itu.

Intermezo..

Dulu pas SMA ada satu cewek yang melakukan hal itu. Namanya Nur Aini Rahman. Cantik banget. Sayang kala itu ego gw terlalu tinggi. Kalau ada kesempatan lagi, pengen rasanya gw mengenal dia lebih dalam.

Pas kuliah, ada satu cewek yang melakukan hal itu. Namanya Winda Irawan. Cewek tomboy abis. Dia suka banget jadi bahan bullyan. Gw yang sebenarnya juga termasuk si tukang bully punya pengecualian buat Winda. Gw gak pernah sedikit pun nyolek dia. Termasuk seluruh teman-teman gw. Buat gw, dia mesti dilindungi.

Kenapa gw sangat menghargai orang yang tulus negur gw di saat awal gw mulai masuk komunitas baru?. Jawabannya karena mereka adalah orang-orang yang menerima gw sebenarnya. Bukan mereka yang menerima gw setelah gw menggunakan banyak topeng di wajah.

Buat Olivia, di kantor gw adalah segala. Dia selalu ngajak gw sebat (baca: ngrokok), umumnya gw selalu mau. Kalau nggak mau, biasanya dia maksa, baik lisan maupun via japri. Nah kalau benar-benar nggak mau, barulah dia cari teman yang lain. Perlakuan dia yang menjadikan gw pilihan pertama dibandingakn yang lain di kantor sangat gw hargai. Maka apa pun permintaannya, jika gw masih sanggup pasti akan selalu gw turutin.

Gaya dia menurut gw saat ini di kantor terlihat di pasangan Ani dan Yanto. Buat Ani yang tertutup, Yanto adalah segala. Ia selalu jadi pilihan yang utama dibanding yang lain. Ani baru memilih yang berbeda jika Yanto tak ada.

*

Joan (bukan nama sebenarnya), jadi mereka yang spesial terakhir sejauh ini. Butuh waktu lama buat gw menyadari bahwa dia adalah yang spesial berikutnya kala itu. Dua tahun lebih dan akhirnya gw baru sadar, she’s special.

Lampu kuning terangnya menyala saat ia menceritakan kisah orang tuanya. Ada haru yang dalam gw rasakan saat itu. Begitu dalam hingga gw mengucap kalimat ini dalam hati “Gw harus buat dia bahagia”. Dan entah kenapa, selalu ada rasa happy yang gw rasakan saat berusaha melindungi Joan dari orang-orang nggak baik, atau juga saat gw coba melakukan sesuatu yang bisa ngbuat dia senang. Dari Joanlah gw belajar berkorban untuk mereka yang spesial. Ke depan, ada satu hal yang harus gw lakukan demi dia. Meluruskan segalanya. Walau untuk itu gw mungkin harus kehilangannya.

Hilang, tapi bukan berarti benar-benar tak ada kan.

Banyak teman-teman cewek gw yang nanya, “Kenapa sih lo belain Joan banget?”. Jawaban gw klise, “Yah, namanya juga teman”.

Dalam hati gw pengen jawab, “Lo semua beruntung. Kalian tahu efek psikologis dari kehilangan sosok bapak buat anak perempuan. Gede banget. Salah satunya kepercayaan diri.”

Joan pernah cerita. Pas SMA ada seorang pria yang ia suka, begitu pula si pria pada Joan. Namun ia tak berani mengikat cintanya. Alasannya dia malu, jika si pria tahu ia tak punya bapak. Entahlah, atau mungkin juga ia ragu akan kehadiran seorang pria di hatinya.

Tak adanya seorang bapak buat anak perempuan menurut gw juga berpengaruh besar pada sulitnya ia menemukan contoh nyata seorang pria yang benar-benar sayang padanya. Dia jadi gak tau gimana rasa hangatnya pelukan pria yang tulus sama dia. Layaknya pelukan bapak pada anak perempuannya. Karena gak tau itulah, jadi dia gak bisa nyamain pas udah gede, saat laki-laki meluk dia, mana rasanya hangat yang tulus sama mana yang tidak.

Gw sayang banget bapak gw. Begitu sayangnya, hingga gw gak tau apa yang harus gw lakukan jika nggak ada dia. Pokoknya bapak adalah My MVP in the world lah. Atas dasar itu gw berusaha menyelami perasaan orang yang tidak dianugerahi seorang bapak, terutama saat masa kecilnya. Terlebih anak perempuan. Itu alasan kenapa gw begitu sayang sama Joan.

Menjadikan Joan sahabat adalah opsi terbaik gw, karena pastinya gw gak bisa jadi bapaknya Joan. Selain kurang tua, wajah gw juga gak mirip. Justru bahaya kalau sampai gw ngaku-ngaku jadi bapaknya.

**

Apa yang gw tulis ini cuma setitik kisah dari lautan cerita yang ada soal mereka yang spesial. Intinya, gw sudah cukup puas dengan kehadiran mereka yang spesial di lingkaran pertemanan gw. Bersama mereka gw gak perlu lagi 300 teman seperti yang Nana inginkan.

Jika Tuhan yang menentukan siapa orang tua dan pasangan hidup kita. Maka mereka yang spesial adalah jodoh yang kita tentukan sendiri.

Inspired by: Nana and her friends.

Rabu, 07 September 2016

Cowok vs Pria

Yeaayy.., akhirnya nulis lagi setelah hampir tiga bulan vakum. Oh iya, kali ini gw mau coba nulis non-fiksi. Hahaha.., bukan genre gw banget sih sebenarnya, secara gw kan anaknya fiksi abis. Tapi ya sudahlah ya, dicoba aja. Btw tulisan ini bukan soal benar atau salah, cuma sebuah pemikiran dari sudut pandang gw aja.

Ide tulisan ini gw pilih setelah sebelumnya dapat informasi dari seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan televisi swasta di Jakarta. Tentang bagaimana rekan kerjanya memperlakukan dia. Teman gw cewek, sebut aja namanya Joan, sedang temannya cowok, sebut aja Ucok. Keduanya bukan nama sebenarnya.

Nah ini dia nih pegnya.

Suatu hari Joan cerita ke gw bagaimana dalam bekerja ia kerap diberikan beban pekerjaan yang lebih berat dari Ucok. Joan sih gak masalah sebenarnya. Dia cuma curhat aja. Tanpa ngeluh.

Ceritanya: Jadi pernah pas Joan kerja berdua bareng Ucok, ia dapat bagian pegang segmen 1, 2 dan 3. Segmen 1 biasanya berita headline yang fresh. Segmen 2 isinya Live. Segmen 3 paling-paling berisi berita rerun dari program sebelumnya.

(oke biar gak bingung gw jelasin sedikit ya, Joan dan Ucok adalah news producer. Mereka bertanggung jawab atas siaran berita yang berdurasi satu jam. Isinya 6 segmen. Tiap segmen durasinya antara 6-7 menit). Oke lanjut yaa.

Eiittss, tapi mendadak setelah rapat sore ada yang berubah. Joan jadinya kedapatan pegang segmen 1, 2 dan 6. Segmen 6 berisi liputan wajib yang harus dikerjakan secara seksama.

Joan sempat protes, kenapa begitu. Kalau memang Ucok gak pede pegang segmen 6 yang ada liputan wajibnya, kenapa gak dia pegang segmen 1, 2 dan 3. Lalu Joan pegang segmen 4, 5 dan 6. Tapi Ucok tetap bersikeras, pembagiannya seperti itu. Joan segmen 1, 2 dan 6, sementara Ucok segmen 3, 4 dan 5. Merasa akan percuma jika perdebatan dilanjutkan, lagipula waktu terus berjalan dan deadline makin dekat, maka Joan pun mengerjakan bagiannya. Begitu pula Ucok.

(btw nih, buat tambahan informasi. Segmen 4 dan 5, sama seperti segmen 3, biasanya sih hanya berita rerun dari program sebelumnya)

Itu dia pegnya. Sekarang lanjut kita bahas pemahaman soal cowok vs pria menurut gw.

Sebagai seorang laki-laki, sosok Ucok cowok abis. Mukanya kotak, garis wajah tegas, di sejumlah bagian badan ada tattonya. Hobinya pun masuk kategori extreme sport. Surfing.

Dengan gambaran yang ada pada dirinya, gw sih berharap, Ucok bisa lebih fair pada Joan. Atau bahkan berkorban. Dia cowok gitu lho. Bukannya laki-laki merasa bangga jika bisa lebih berguna buat perempuan. Kalau gw sih diajarinnya gitu. Entah Ucok. Kayaknya sih nggak.

Tapi kisah ini mengajarkan gw, bahwa cowok ternyata adalah hanya jenis kelamin. Sementara pria adalah sebuah identitas. Karakter atau sikap yang kemudian melahirkan tanggung jawab yang lebih. Karena pada akhirnya, seorang cowok belum tentu jadi pria, sedangkan pria pasti cowok.

***

Selain curhatan Joan soal Ucok, obrolan dua orang teman gw, Nana dan Lily juga menarik perhatian gw untuk dikomentarin.

Obrolan bermula saat Nana curhat ke Lily lewat telepon. Nana cerita soal pacarnya yang cemburu pada teman laki-lakinya yang bernama Bastian. Di balik telepon Lily bilang, yaelah kenapa juga pacar lo mesti cemburu sama Bastian, dia kan kayak “pere”. Keduanya lalu tertawa.

Gw tertarik sama obrolan ini karena kebetulan gw cukup kenal sosok Bastian. Dia teman gw dari masih muda dulu. Gw sendiri mulai mengenal sosok Bastian lewat cerita-cerita kehidupannya yang biasa dia ceritain ke gw.

Bastian satu ketika bercerita, bahwa dia pernah kabur dari jadwal tawuran sekolahnya demi nonton episode terakhir telenovela Esmeralda. Sontak semua orang yang dengar saat itu langsung komentar, edan lo ya sampai segitunya. Sebagian dari mereka lalu berpikir, cowok bisa segitu belainnya nonton Esmeralda. Dan dengan semua respon itu, Bastian hanya tersenyum. Lalu ikut menertawakan dirinya.

Bastian pun kemudian memilih tidak melanjutkan ceritanya, kisah bahwa satu jadwal tawuran yang dia hindari itu hanyalah sebuah kejadian dari belasan tawuran yang dia telah ikuti sebelumnya. Serta kisah di mana lebih dari puluhan tawuran yang telah berhasil ia hindari untuk terjadi. Bagaimana caranya?, jadi dulu waktu masih SMA sepulang sekolah Bastian sering tidak langsung pulang ke rumah. Dia sering terlebih dahulu main ke tempat dingdong. Dengan console game yang dimilikinya di rumah, Bastian sebenarnya tak tertarik main dingdong di sana. Ia lebih memilih bermain jackpot atau judi koin. Nah pada saat itulah ia kemudian berkenalan dengan sejumlah “pentolan” dari sekolah-sekolah yang menjadi musuh sekolahnya. Ia juga berteman dengan “jagoan kampung” di sekitar sekolahnya, umumnya mereka berprofesi sebagai “timer” angkot. Karena hubungan itulah, Bastian yang kala SMA kerap berangkat-pulang naik bus dan selalu berdiri di pintu belakang, bisa menghindari tawuran hingga tak terlampau sering. Itu semua karena hubungan pertemanan yang ia bangun secara tak sengaja di tempat dingdong. Basisnya, Auri-Simpang Depok pun jadi rute sekolahnya yang paling aman.

*

Berbeda dengan Ucok yang hobi extreme sport. Bastian justru suka masak. Nah ngomongin soal makanan ada yang menarik nih.

Mungkin tak banyak yang tahu ritual Bastian selama ini. Bahwa hampir tiap malam menjelang pulang kerja Bastian selalu menelpon istrinya. Bastian selalu bertanya apakah istrinya lapar? Lalu pertanyaan selanjutnya apakah di rumah ada makanan?. Konsekuensi dari dua pertanyaan itu adalah jika istrinya lapar dan tidak ada makanan maka Bastian harus memutuskan untuk membeli makanan atau memasak makanan setibanya ia di rumah. Tapi apa pun pilihannya, yang selanjutnya terjadi adalah Bastian akan makan malam sepiring berdua dengan istrinya. Bastian memanfaatkan betul momen makan bersama itu untuk menjalin komunikasi secara lebih intens. Sebab bagi Bastian, komunikasi memiliki peran sangat penting dalam sebuah hubungan.

*

Pada satu kesempatan lain Bastian bercerita bahwa dari pengalamannya, ia mengenal dua jenis laki-laki. Pertama laki-laki yang mengibaratkan perempuannya sebagai sebuah boneka, sementara yang kedua mengibaratkan perempuannya sebagai kaktus atau tumbuhan hidup lainnya.

Jenis laki-laki pertama adalah mereka yang sebenarnya hanya tidak ingin kehilangan apa yang telah dimilikinya. Boneka adalah simbol trophy buat mereka. Meski tak terlampau menyukainya, tapi mereka juga tak ingin ada yang mengambilnya. Jadilah si boneka hanya diletakan di lemari saja dengan sedikit perhatian yang diberikan. Dilihat atau dimainkan hanya sesekali saja. Laki-laki jenis ini suka sekali menggunakan kata “jangan”, seperti jangan sentuh, jangan ambil, dsb. Padahal kata “jangan” menurut psikolog tak bagus untuk kejiwaan. Makanya dianjurkan untuk meminimalkan kata “jangan” pada anak.

Jenis laki-laki kedua adalah mereka yang tahu betul, jika tak dirawat, maka tanaman yang mereka miliki akan mati. Sedangkan jika dirawat, selain membuat tanaman tetap hidup, jika nutrisinya cocok bahkan bisa membuat tanaman tumbuh kian besar. Karena rasa sifatnya tak mutlak, bisa konstan juga dinamis, mengecil atau membesar.

Berbeda dengan jenis laki-laki pertama yang suka bilang "jangan", jenis kedua lebih suka bilang "ayo", karena lebih menginisiasi. Mempertahankan bukan dengan melarang tapi mengajak sambil membuktikan bahwa ia tetap sebagai pilihan yang lebih baik. Jadi tak ada kalimat "jangan" pergi dengan dia, tapi pilihannya menjadi "ayo" ikut pergi dengan aku.

Entah dari mana Bastian belajar soal semua itu. Prediksi gw sih, Bastian dapat pelajaran itu dari telenovela Esmeralda yang ia bela-belain nonton, meski harus dicariin teman satu sekolahnya sore itu. Bastian selalu bilang, nggak ada satu pun wawasan yang nggak berguna. Makin bervariasi wawasan yang kita punya, tentunya akan jadi lebih baik.

Itu adalah sedikit kisah Bastian yang gw tahu. Mungkin masih banyak lagi kisahnya yang lain. Nanti deh kalau ketemu gw akan minta Bastian ceritakan kisahnya yang berbeda.

Untuk Nana dan Lily, jika mereka membaca sedikit kisah ini, seperti apa ya reaksi mereka?. Apakah keduanya masih akan menganggap Bastian kayak “pere” atau mungkin bisa mengubah penilaian mereka akan sosok seorang Bastian.

Bastian pernah bilang ke gw, kalau dia pada dasarnya cuma pengen jadi laki-laki yang asik aja. Mungkin akhirnya jadi keliatan berbeda kalau faktanya laki-laki kayak gitu ternyata jarang ada. Buat Bastian, bahagia aja gak cukup. Buat dia hidup yang ia jalani harus bahagia dan fun.

To be continued.

(Teaser: Bastian gak selalu kelihatan asik kok, banyak juga kisah ngeselin dan nakalnya, karena selain Esmeralda, Bastian juga suka serial F.R.I.E.N.D.S dan film Cruel Intention.)

Inspired by: Joan - Ucok & Nana - Lily

Minggu, 05 Juni 2016

Hujan pertama di bulan Juni

Arie menutup kedua lubang hidungnya. Ia tidak suka bau carbol rumah sakit. Aroma yang meski harum, namun mampu membuat indera penciumannya itu terluka. Bau yang jika ia hirup terlampau dalam, membuat dadanya sesak. Perih sekali. Beberapa kali bahkan membuatnya harus hilang kesadaran. Pingsan hingga berhari-hari.

Hanya bau perfume vanilla milik Diana saja yang membuatnya mampu kembali tersadar. Tapi sekarang ia tak boleh pingsan lagi. Perfume itu sudah habis ia hirup demi menjaga asanya selama dua tahun belakangan ini. Sial pikirnya. Tahu gitu dulu ia tanya dimana Diana membelinya.

Matanya sempat terpejam. Lalu kembali terjaga. Ia paksakan kedua bola matanya itu untuk terus berkedip. Fokusnya hanya pada sosok wanita yang saat ini sedang terbaring di tempat tidur. Dokter bilang, ia akan segera siuman. Bangkit dari tidur panjangnya. Arie lalu mencoba mengingat, apakah ia menciumnya sehari yang lalu?. Jika tidak, bagaimana mungkin si putri tidurnya itu tersadar.

Tekad kuat Arie ternyata tak mampu membendung raganya yang sudah lelah. Matanya sedikit demi sedikit menutup. Dan tak sampai hitungan kelima, ia sudah terlelap. Masuk ke dunia mimpinya.

Ia kembali pada memorinya dua tahun yang lalu.

Saat itu pikirannya sedang sumpek. Capek dengan segala permasalahan yang ada di kantornya. Mulai dari bos yang brengsek, teman kantor yang suka menjilat, sampai sahabatnya yang berkhianat. Menjelek-jelekannya kepada semua orang yang ada di kantor. Ia bilang Arie pencuri. Entah sudah berapa rupiah uang perusahaan yang masuk ke rekening pribadinya. Hampir seluruh rekan kerjanya di kantor percaya fitnah itu. Di mata mereka kini tak ada lagi Arie si ramah. Si rajin. Si baik. Cap buatnya hanya satu. Arie si penipu. Pencuri uang perusahaan.

Bagi Arie, hiburannya kini hanya satu. Rumah. Tempat ia bisa berkeluh kesah. Pada Diana. Cintanya.

Namun entah kenapa, menurut Arie, Diana sudah berubah. Tak seperti dulu. Tidak lagi mau jadi seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Wanita yang selalu menurut atas apa pun keinginan dan perintahnya. Diana yang sekarang lebih cuek. Acuh tak acuh pada dirinya.

Jika dirunut, kelakuan aneh Diana itu sudah terjadi sejak tiga bulan yang lalu. Saat dia mulai rajin duduk di teras rumah. Menunggu kehadiran pak pos. Orang yang setiap seminggu dua kali mengirimkan surat ke rumah. Dan semuanya untuk Diana.

Iseng-iseng Arie coba melihat isi surat untuk Diana. Hal yang ia tahu sebenarnya tak boleh dilakukan. Tindakan yang ia sadari telah merebut ruang privasi istrinya. Tindakan yang Diana pasti tak pernah lakukan atas apa pun barang pribadi miliknya. Termasuk pada buku harian usangnya yang berwarna hijau tua. Buku harian yang ia simpan rapat-rapat di bawah lemari bajunya. Buku yang berisi daftar wanita yang pernah ia cintai. Termasuk juga puisi-puisi rahasianya.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah kepalang penasaran.

Diambilnya sepucuk surat. Pengirimnya adalah Tyo. Mantan pacar Diana. Cinta pertamanya.

Pikiran Arie kian kalut. Rumah yang sebelumnya ia jadikan benteng terakhirnya dalam mencari ketenangan mendadak runtuh. Hatinya hancur. Diana mengkhianatinya. Pantas saja sekarang dia tak diperhatikan. Tak dianggap. Diana lebih sering bersama surat-suratnya itu, dibandingkan berbincang dengannya.

Diana terkejut saat ia dapati Arie sedang membongkar barang pribadinya.

Tertangkap tangan tak lantas membuat Arie menyesal. Amarah membuatnya melupakan kata maaf yang seharusnya ia ucapkan. Ia justru marah. Seribu kata kasar lalu meluncur dari mulutnya. Mulai dari istri tak tahu diri. Pengkhianat. Dan lainnya.

Sebuah tamparan di pipi Diana menjadi penutup amarah Arie sore itu. Tamparan yang saking kencangnya membuat tubuh Diana terhempas. Kepalanya sempat membentur ujung tempat tidur sebelum akhirnya tersungkur di lantai kamar. Diana tak sadarkan diri.

Suara hujan di luar rumah menyamarkan kekerasan yang baru saja Arie lakukan. Menyembunyikan dari tetangganya.

Hujan pertama di bulan juni itu pula yang kelak akan menjadi pengingat baginya. Momen dimana ia kehilangan istrinya. Bukan secara harfiah tentu saja.

***

Arie membuka matanya. Perlahan ia mulai kumpulkan kembali kesadarannya. Ia terperanjat saat mendapati tubuh Diana tak ada di tempat tidur. Ia kaget setengah mati. Digerakannya bola matanya itu ke kanan dan ke kiri. Namun tidak ada juga sosok Diana.

“Mas.” Ia mendengar sebuah suara dari arah belakang tubuhnya. Suara yang ia kenal betul. Suara istrinya. Diana.

“Ya.”

“Aku disini Mas.” kata Diana pelan.

Arie membalik tubuhnya. Ia melihat Diana sedang duduk membelakanginya. Menatap ke jendela. Melihat hujan sedang menyirami bunga-bunga di pekarangan belakang rumah sakit.

“Maafkan aku Diana.” ucap Arie mengiba.

 “Aku waktu itu panik. Aku termakan amarah.”

“Gak apa-apa mas.” jawab Diana. Suaranya datar. Tak seperti orang yang memaafkan. Lebih kepada wanita yang tak mau urusannya jadi panjang.

“Aku sudah baca seluruh surat itu. Maaf aku sudah salah sangka.”

“Iya Mas.” jawab Diana masih datar. Namun kali ini terasa ada intonasi kemarahan dalam suara singkatnya itu.

“Bulan lalu Tyo akhirnya meninggal. Ini surat terakhirnya untukmu.” Arie mendekat, lalu menyerahkan sebuah surat dengan amplop putih dari balik saku celananya.

Diana menerimanya.

“Ayo kita pulang mas.”

***

Sejak masuk mobil hingga sampai di rumah, Diana belum mengucapkan satu patah kata pun. Arie juga tidak berusaha menegurnya. Ia memberinya ruang untuk sendiri.

Diana belum mau masuk ke dalam rumah. Ia memohon untuk dibiarkan duduk di teras. Arie pun membiarkannya menyendiri disana. Sementara ia mulai merapihkan kamarnya. Kamar yang punya sejuta cerita untuk dirinya dan Diana. Termasuk kisah tragis itu. Juga kisah-kisah selanjutnya.

Arie mulai mengingatnya. Saat ia membaca lembar demi lembar surat milik Diana.

Dimulai saat Tyo bercerita bahwa ia terkena Leukimia. Usianya tak lebih dari enam bulan lagi. Ia menyatakan permohonan maaf untuk Diana. Maaf atas apa yang telah ia lakukan padanya. Meninggalkannya demi seorang pramugari muda yang ia temui saat pulang dinas dari Atambua.

Tyo mendoakan agar hubungannya dengan Arie langgeng. Jangan sampai Diana di kemudian hari termakan rayuan pria nakal seperti dirinya. Diana mengamininya. Ia berterima kasih pada Tyo yang telah mengingatkannya.

Diana kemudian bercerita bahwa ada seorang pria yang sedang mengganggunya, tapi ia tak memperdulikannya. Fokusnya hanya pada Arie. Ia tahu Arie sedang kesulitan di kantornya. Ia ingin menceritakan tentang pria itu pada Arie, namun takut justru akan jadi tambahan beban buat Arie. Maka ia urung menceritakannya. Tyo bilang langkah itu sudah tepat.

Tyo punya satu permohonan ke Diana. Tyo ingin Diana membantu masalah hak warisnya. Ia ingin memastikan 75 persen hartanya jatuh ke Tyas, anaknya. Sisanya baru dibagi rata antara istri dan adik-adiknya. Diana pun menyanggupinya.

***

Mata Diana lurus menatap ke depan. Tepat di hadapannya sekelompok anak kecil sedang bermain hujan-hujanan. Namun fokusnya bukan kesitu. Pikiran Diana sedang menyusuri lorong waktu. Kembali di saat sebuah tamparan keras menghantam pipinya.

Dalam sepersekian detik sebelum kepalanya membentur ujung tempat tidur, banyak sekali kenangan yang meluncur bebas di pikirannya. Salah satunya saat Arie melamarnya. Mendatangi ibunya. Ia berjanji akan membahagiakan Diana. Tak akan pernah menyakitinya. Baik hati maupun fisiknya.

Tetes air mata meluncur saling bersusulan dari kedua mata Diana. Seolah sedang balapan dan ada pada lap terakhir, keduanya tak mau kalah. Kedua pipi Diana pun basah air mata. Tapi ia sengaja tak menyekanya. Diana membiarkan sensasi kesedihan menyelimuti dirinya. Sementara itu, sebuah surat terakhir dari Tyo masih digenggam erat di tangan kanannya.

Ia memberanikan diri membukanya. Diana takut Tyo marah padanya. Marah karena tak pernah lagi membalas surat dari Tyo sejak kejadian itu.

Diana membaca surat terakhir dari Tyo.

Dear Diana,


Menanti kabar darimu menjadi siksa sekaligus obat bagiku. Siksa karena batinku tak tenang. Obat karena vonis dokter yang bilang usiaku hanya tersisa enam bulan ternyata keliru. Aku bisa bertahan hidup hampir dua tahun. Aku menanti kabarmu Diana.


Oh iya, masalah hak waris sudah beres. Kau tak usah repot-repot membantunya. Pengacaraku sudah menyelesaikannya.


Diana, aku merasa usiaku sudah sampai ujungnya. Mungkin ini akan jadi surat terakhirku. Jadi dimana pun kau berada. Aku harap kau baik-baik saja.


Your friend, Tyo.

Air mata Diana kembali menetes. Namun kali ini bukan dari amarahnya, tapi dari rasa kehilangannya.

***

“Diana, ayo kita masuk. Sudah maghrib.” Arie membangunkan Diana dari lamunannya.

“Iya Mas.” jawab Diana datar.

Arie menggandengnya masuk ke dalam. Ia telah berhasil membawa pulang Diana kembali ke rumahnya. Tepat saat hujan pertama di bulan Juni, persis kala ia kehilanganya dahulu.

Namun Arie tahu, bahwa dia yg sudah pergi tak akan kembali lagi dalam wujud yang sama saat datang kembali. Arie siap dengan konsekuensinya. Ia sadar Diana tak akan kembali menjadi istrinya yang dulu.

Inspired by: Stop #KDRT